Tampilkan postingan dengan label Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jateng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Pesta Rakyat postheadericon

Rp 17,000,00.00
SEMARANG, suaramerdeka(dot)com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sepertinya memiliki budaya baru ketika merayakan pelantikan kadernya menjadi kepala daerah.
Yaitu dengan menggelar pesta rakyat. Hal ini dibuktikan dengan rencana perayaan yang dulunya dipopulerkan oleh Jokowi (saat ini Gubernur DKI) di pelantikan Hendrar Prihadi, sebagai Wali Kota Semarang, 21 Oktober mendatang.
“Ini (pesta rakyat) sah-sah saja dan bisa jadi budaya baru,” kata sekretaris DPC PDIP Kota Semarang, Supriyadi, Jumat (11/10).
Ia tak memungkiri pesta rakyat itu merupakan budaya baru yang dibawa partainya yang diawali saat Joko Widodo dilantik sebagai gubernur DKI. Hal itu juga dilakukan saat Ganjar Pranowo dilantik menjadi Gubernur Jawa Tengah beberapa bulan lalu.
“Pesta rakyat itu agar pimpinan dekat dengan rakyat, tidak melupakan perannya sebagai pengayom rakyat,” kata Supriyadi.
Supriyadi tak menolak anggapan bahwa kegiatan pesta rakyat saat pelantikan ketua DPC partainya sekaligus untuk pencitraan. Ia menegaskan, sikap itu dilakukan sekaligus untuk kepentingan masyarakat luas.
Meski untuk mendekatkan rakyat, pesta rakyat yang hendak digelar tak disetting adanya kontrak politik. Menurut Supriyadi kontrak politik sudah dilakukan saat Pilwakot 2010 lalu.
Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DPRD Kota Semarang, Amin Sutrisno menyatakan, panitia pelantikan menyediakan anggaran Rp 394 juta untuk menjamu tamu undangan dalam pesta rakyat.
“Tamu undangan di dalam ruang paripurna 800 orang, sedangkan di luar mencapai 1500 orang,” kata Amin Sutrisno.
Menurut Amin, selain mengundang pejabat publik dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang, panitia juga mengundang masyarakat umum. Khususnya dari tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi kemasyarakatan.
“Pesta rakyat itu dilakukan usai prosesi pelantikan,” kata Amin menambahkan.
Panitia telah menyiapkan 4.500 porsi makanan dengan 9 jenis menu yang hendak disajikan di halaman Balai Kota Semarang. Selain itu juga disiapkan panggung pagelaran seni campur sari untuk menghibur para tamu.
Amin membantah kegiatan pesta rakyat itu atas permintaan Hendrar Prihadi yang hendak dilantik sebagai wali kota, namun inisiatif bersama antara dewan dan Pemerintah Kota Semarang.
“Rakyat Semarang pemilik legitimasi pemerintahan daerah, wajar bila dilibatkan,” tandasnya.
sumber :  http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/10/11/175404/-Pesta-Rakyat-Jadi-Budaya-Baru-PDIP

Senin, 16 April 2012

Disodori Surat Penangkapan Polda Jateng, Titik Pingsan Dua Kali postheadericon


TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Istri wali kota Salatiga, Titik Kirnaningsih pingsan begitu menerima surat perintah penangkapan yang disodorkan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah di rumahnya di Salatiga pada Senin (16/4) sekitar pukul 09.30. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Salatiga yang menjadi tersangka kasus korupsi Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga yang merugikan negara Rp 12,23 Miliar itu pun langsung dirujuk ke RS Bhayangkara di Jl Majapahit No 140 Gayamsari Semarang setelah dokter RSU Salatiga menyarankannya.

"Sekitar pukul 11.00, dokter datang ke rumah. Lalu ibu (Titik) dibawa ke RSU Salatiga baru ke sini (RS Bhayangkara)," kata kuasa hukum tersangka Heru Wismanto di lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD), Senin (16/4/2012) sore.

Sekitar pukul 16.30, ada dua mobil memasukki area RS Bhayangkara yaitu sebuah toyota Camry hitam berplat H 7788 ZB yang merupakan mobil dinas wali kota Salatiga diikuti ambulance. Ternyata Titik tidak berada di ambulance melainkan di dalam camry. Mereka tidak menuju ke IGD, justru menuju kantor Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jateng yang berada dalam satu kawasan.

Titik yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam modis dengan infus di tangannya langsung menuju lantai dua kantor Bidokkes. Bukannya masuk ke ruang pemeriksaan, Titik yang didampingi suaminya, Yulianto, dan ajudannya malah menuju ke dapur. Menghindari sorotan kamera wartawan. "Kasihan, kasihan, di tangannya ibu ada infusnya lho," kata perempuan yang ikut dalam rombongan tersebut.

Sekitar lima menit mereka di dalam, tiba-tiba terdengar suara "klotak" seperti benda jatuh. Rupanya Titik kembali pingsan untuk kedua kalinya. suaminya yaitu Yulianto, petugas Bidokkes dan penyidik langsung keluar dari dapur. Mereka membopong tubuh Titik menuruni tangga. Menuju ruang IGD RS Bhayangkara.

Titik adalah tersangka proyek JLS yang dilakukan di Salatiga pada 2008. Saat itu Titik yang menjabat sebagai direktur PT Kuntjup mengikuti tender bersama PT Kadi International senilai Rp 49, 21 Miliar. Hasil audit BPKP Jateng menunjukkan ada kerugian negara senilai Rp 12,23 Miliar pada proyek sepanjang 6,5 kilometer.

Heru Wismanto mengatakan pihaknya akan mengikuti semua prosedur hukum yang berlaku. Dia juga tidak akan melalukan langkah apapun dalam arti lain pihaknya akan kooperatif. Terkait surat perintah penangkapan, sebenarnya tidak berlaku saat itu juga melainkan 24 jam. Ia mengira karena Titik kelelahan pulang dari penataran di Jakarta dan lelah pikiran mengakibatkan tubuhnya drop hingga pingsan.

Terkait dengan langkah penahanan setelah penangkapan pihaknya akan melihat perkembangan terlebih dahulu. Ia akan menunggu kondisi kliennya itu pulih. Setelah ada perintah penahanan baru pihaknya akan memikirkan langkah selanjutnya, apakah akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan atau tidak. "Lihat nanti dulu," imbuhnya.

Adapun suasana IGD RS Bhayangkara hingga Senin (16/4) sore hingga masih didominasi oleh pihak penyidik maupun tim pengacara tersangka. Wali kota Salatiga Yulianto turut mendampingi istrinya di dalam ruang IGD. Sejak masuk, orang nomor satu di kota Salatiga itu tidak keluar. Sementara rombongan yang lain memilih untuk duduk-duduk di sekitar ruang IGD. Sopir mobil Camry pun memilih untuk tidak berkomentar ataupun bercerita tentang siapa yang ada di dalam camry dan kondisi Titik sepanjang perjalanan dari Salatiga ke Semarang. "Saya ndak tahu apa-apa," ucapnya sembari menunggu mobil dinas wali kota.

Dihubungi terpisah, Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng Ali Mukartono mengaku sudah siap menerima limpahan berkas tahap kedua yaitu tersangka dan barang bukti. Tetapi untuk waktunya pihaknya hanya tinggal menunggu penyidik Polda untuk melimpahkan. Setelah itu barulah pihaknya menyusun rencana dakwaan untuk proses persidangan.
"Mengenai kapan penyerahan tahap kedua, pihak kejaksaan dalam posisi menunggu," jelasnya. (*)

Rabu, 19 Oktober 2011

Polisi Siap Bongkar Makam Calon Menwa postheadericon

Ilustrasi. (Foto : Dok)

KUDUS (KRjogja.com) - Kegiatan Pra Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa (Pra Diksar Menwa) Satuan 0923 Gondo Wingit Universitas Muria Kudus (UMK) di Bumi Perkemahan Abiyoso Desa Menawan Kecamatan Gebog Kudus, diduga diwarnai sejumlah aksi kekerasan. Hal itu pula yang menjadi kecurigaan hingga menyebabkan Ahmad Muntoha (20), mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) semester satu UMK itu tewas.

Polres Kudus siap melakukan pembongkaran makam untuk mendapatkan bukti dugaan itu setelah munculnya kesaksian dari sejumlah warga. “Hari ini (Rabu, 19/10) beberapa saksi kami mintai keterangan. Jika keluarga korban mengizinkan, makam segera kami bongkar,” ujar Waka Polres Kudus, Kompol Arman Asmara, Rabu (19/10).

Hasil visum dokter sebelumnya menyebutkan kalau luka dan lebam yang terdapat pada tubuh korban disebakan karena terjatuh. Meninggalnya korban disebabkan dehidrasi dan depresi. Keterangan itu sempat diragukan dan menimbulkan kecurigaan pihak keluarga, meski akhirnya menerima dengan ikhlas atas musibah itu.

“Kami sempat menawarkan agar mayat korban diautopsi, tetapi keluarga menolak. Tetapi jika sekarang ada kesaksian baru dari warga, kami siap menindaklajutinya. Ada beberapa saksi yang akan kami mintai keterangan,” tegasnya.

Salah seorang saksi mata Tio (28) asal Undaan Kudus, menyatakan melihat peserta Pra Diksar diperlakukan kasar oleh seniornya. Mereka hanya memakai celana dalam, ditendang dan dipukul, serta diumpat dengan kata- kata kotor. “Saat itu kami melihat bersama sepuluh pecinta alam lain. Jadi tidak benar kalau tidak ada kekerasan,” ungkapnya.

Aksi kekerasan dilakukan Senin (17/10) sekitar pukul 10.00 sebelum korban meninggal pukul 15.00 WIB. Kesaksian lain disampaikan Beni Mariyanto (25) warga Gebog dan Miftah Farid (20) warga Kaliwungu Kudus.

Meski mengaku tidak mengetahui ada kekerasan, namun keduanya melihat lima mahasiswa diminta telanjang mengenakan celana dalam, dibentak-bentak dengan kata-kata kotor. “Saat itu Minggu (16/10) sekitar pukul 07.30, saya sedang melintas di lokasi kegiatan di dekat Sendang Bunton. Banyak juga warga yang menyaksikan,” tandasnya.

Terkait dengan keterangan saksi tersebut, Komandan Menwa UMK Ahmad Fani Fauzi membantah ada aksi penelanjangan, karena peserta hanya diminta buka baju untuk mengikuti kegiatan olahraga, khususnya laki-laki. Sedang perempuannya tidak.

Kegiatan Pra Diksar Menwa UMK diikuti 42 peserta, terdiri 25 anggota lama dan 17 calon anggota baru Selaion korban meninggal, dua peserta lain mengalami depresi yaitu Triani Fatmawati (20) asal Desa Trengguli, Bangsri Jepara dan Muhammad Sugiyanto (19) asal Desa Kedung Mulyo, Sukolilo Pati. Korban Sugiyanto sempat hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan setelah mengalami dehidrasi. Mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) semester satu tersebut kini dirawat di rtuang Cempaka Rumah Sakit Umum (RSU) Kudus. (Trq)

Jumat, 03 Desember 2010

Kasus Oknum 'Polisi Cabul' Dilimpahkan ke Polda Jateng postheadericon

Ilustrasi (doc)
SALATIGA (KRjogja.com) - Kapolres Salatiga AKBP Susetio Cahyadi SIK MH, Jumat (3/12) menegaskan, oknum polisi yang diduga mencabuli anak bawah umur, yakni Bripka Bam (48) kasusnya telah dilimpahkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng). Pelimpahan ini selanjutnya akan disidangkan dan menunggu perintah selanjutnya dari Pembinaan Hukum (Binkum) Polda Jateng.

“Saya berjanji tidak akan mempetieskan kasus oknum anggota Polres Salatiga yang diduga telah mencabuli anak tirinya tersebut. Hanya saja kami meminta media sedikit empati agar tidak terlalu membesarkannya,” tandas AKBP Susetio Cahyadi, Jumat, di Salib Putih Salatiga.

Kapolres juga menandaskan, dirinya selaku pimpinan di jajaran Polres Salatiga tetap konsisten dan profesional dalam menjalankan tugasnya. “Oknum ini sudah kami proses dan dinonjobkan dari tugasnya untuk kemudian disidangkan,” tandas AKBP Susetio Cahyadi. (Sus)
 

Senin, 22 November 2010

Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas postheadericon

  Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas

Awan panas Gunung Merapi
REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG--Warga di sejumlah dusun terakhir di sisi barat puncak Merapi melihat gunung berapi itu kembali mengeluarkan awan panas cukup besar, Senin malam (22/11), sekitar pukul 22.15 WIB.

"Keluar cukup besar, gunungnya juga tampak, tidak tertutup kabut," kata seorang warga Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Yuswadi, di Magelang, Senin malam.

Yuswadi mengatakan, warga setempat juga mendengar letusan gunung berapi satu kali di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu. "Hingga saat ini (sekitar pukul 23.00 WIB, red.) belum terjadi hujan abu di sini," katanya.

Petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Bukit Ketep, Ismail, juga menyatakan, mendapat informasi dari warga di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, sekitar 6,5 kilometer barat puncak Merapi terkait semburan awan panas cukup besar itu. "Mengarah ke selatan," katanya.

Puluhan warga setempat yang berjarak sekitar 6,5 kilometer barat puncak Merapi hingga sekitar pukul 23.00 WIB masih berjaga di luar rumah. "Sekitar 50 orang laki-laki saat ini berjaga di luar rumah, mengamati situasi puncak gunung," kata seorang warga Tangkil lainnya, Gimin.

Gimin mengatakan, warga tidak terlihat panik saat menyaksikan secara langsung semburan awan panas yang cukup besar itu.

Kepala Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, sekitar enam kilometer barat puncak Merapi, Naro, juga mengatakan, warga setempat menyaksikan semburan awan panas tersebut. "Sekitar 15 orang laki-laki malam ini berjaga di jalan dusun setempat, memperhatikan kondisi gunung," katanya.

Gunung Merapi meletus pertama selama fase 2010 pada 26 Oktober 2010, sedangkan letusan terbesar pada 5 November 2010.
Red: Endro Yuwanto
Sumber: antara

Minggu, 21 November 2010

Merapi Bergemuruh, Warga kembali Mengungsi postheadericon

BOYOLALI--MICOM: Ratusan warga Dusun Sepi, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (21/11) petang, panik dan kembali mengungsi, setelah mereka mendengar suara gemuruh dari puncak Gunung Merapi.

Menurut Kepala Desa Jrakah, Tumar, sekitar tiga ratusan warga Dusun Sepi sempat panik berlarian mengungsi setelah terdengar suara gemuruh dan getaran dari puncak Merapi.

Warga Dusun Sepi saat ini, dan mereka masih mencari tempat yang aman untuk mengungsi di Dusun Tritis dan di Kecamatan Selo yang berada di bawahnya dusun itu.

Namun, kata Tumar, suara gemuruh Merapi itu, terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, tetapi di puncak terlihat tidak mengeluarkan semburan awan panas.

"Asap Merapi berwarna putih kecokelatan ke arah barat. Namun, warga sempat panik kemungkinan mereka trauma dengan kejadian pada Jumat (4/11)," kata Tumar.

Menurut Tumar, kondisi Merapi hingga pukul 19.30 WIB ini, puncak terpantau cerah dan asap putih keluar dari puncak ke arah barat.

Menurut Kepala Dusun II Jrakah, Tumari, suara gemuruh terdengar keras sekali dari Dususn Sepi yang jaraknya sekitar empat km dari puncak membuat warga ketakutan.

Namun, suara gemuruh berpusat di Gunung Merapi tersebut beberapa saat kemudian lahar dingin meluncur dari puncak masuk ke Sungai Apu dan Juweh, dekat Dukuh Sepi.

Warga kemudian kembali mengungsi dan menyelamatkan diri ke Dusun Tritis dan Kantor Kecamatan Selo. Mereka yang kembali mengungsi kebanyakan masih trauma, katanya.

Sementara Komandan Rayon Militer (Danramil) Selo, Kapten (Inf) Kasmadi, membenarkan adanya warga Dukuh Sepi yang mengungsi ke kantor kecamatan setempat.

Para pengungsi tersebut saat ini masih ditampung di sejumlah tempat pengungsian, ada ynag di Dusun Tritis dan sebagian berkumpul kecamatan.

Luwarno, relawan Merapi mengatakan, warga Dusun Sepi sebaiknya meninggalkan kampung dan pengungsi karena, Dusun Sepi memiliki jarak sangat dekat sekali atau sekitar 3,5-empat Km dari puncak.

"Dusun ini masuk zone larangan atau radius bahaya Merapi lima Km. Maka, warga diimbau tetap bertahan di pengungsian," kata Luwarno. (Ant/Ol-3)

Kerugian Erupsi Merapi di Magelang Rp400 Miliar postheadericon

MI/RAMDANI/al
MAGELANG--MICOM: Kerugian materi akibat erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, diperkirakan mencapai Rp400 miliar lebih, kata Bupati Magelang, Singgih Sanyoto.

"Erupsi Gunung Merapi telah mengakibatkan ratusan hektare tanaman dan sejumlah hewan ternak mati, serta sejumlah rumah rusak," katanya di Magelang, Minggu (21/11).

Singgih yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magelang itu mengatakan hal tersebut saat menerima kunjungan Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani, di Panti Marhaen Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Ia menyebutkan, jumlah kerugian tersebut antara lain di bidang peternakan dan perikanan sekitar Rp150 miliar dan bidang pertanian Rp209 miliar.

Letusan Gunung Merapi 2010, katanya, berbeda dengan erupsi beberapa tahun sebelumnya. Semula prediksi kawasan rawan bencana III dari 19 desa maksimum hanya sebanyak 37 ribu orang yang harus diungsikan.

Namun, katanya, puncak evakuasi mencapai 91 ribu lebih pengungsi di wilayah Kabupaten Magelang dan 12 ribu pengungsi di sekitar Kabupaten Magelang, yakni Kota Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kabupaten Semarang (Jawa Tengah), dan Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ia mengatakan, selama ini para pengungsi telah mendapat bantuan jaminan hidup baik dari Pemerintah Provinsi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana berupa 0,4 kilogram beras dan lauk pauk senilai Rp4.500 per orang per hari.

Ia mengatakan, untuk penanganan pascabencana Merapi, Pemkab Magelang telah mengusulkan kepada BNPB untuk diselenggarakan program padat karya khusus petani salak, karena cukup banyak tanaman salak rusak karena abu vulkanik.

Puan Maharani menyatakan prihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat di lereng Gunung Merapi.

"Untuk itu sebagai rasa kepedulian kami untuk membantu meringankan beban para korban bencana Merapi dengan menyalurkan sejumlah bantuan yang dihimpun dari para kader PDI Perjuangan," katanya.

Pada kesempatan tersebut rombongan Puan Maharani membawa bantuan sebanyak 12 truk, antara lain 1.000 paket sembako, semen, pakan ternak, dan pakaian dalam.

Ia mengatakan, penanganan korban Merapi bukan hanya saat warga mengungsi, tetapi juga upaya mengembalikan kehidupan ekonomi masyarakat pascabencana Merapi.

"Bagaimana pascaletusan mengembalikan kehidupan masyarakat, mempunyai tempat tinggal yang layak seperti semula. Ini hal terberat yang harus dibenahi ke depan, jangan sampai mereka tidak bisa menjalani hidupnya secara normal," katanya.

Ia berharap kepada pemerintah dan juga pada kader PDI Perjuangan bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat guna membangun desanya yang kini sedang terpuruk akibat letusan Gunung Merapi. (Ant/OL-3)

Sabtu, 04 September 2010

Pemkot Salatiga Bagikan 800 Paket Bingkisan Untuk Kaum Dhuafa postheadericon

Foto: Istimewa
SALATIGA (KRjogja.com) - Pemkot Salatiga dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1431 H menyediakan dan membagikan bingkisan lebaran bagi 800 kaum dhuafa. Pembangian bingkisan ini akan dilakukan dua tahap, Senin (6/9) di Kecamatan Sidorejo dan Kecamatan Tingkir, kemudian Selasa (7/9) di depan halaman Kecamatan Sidomukti dan Kecamatan Argomulyo Salatiga.

Kabag Humas Pemkot Salatiga, Drs Valentino T Haribowo kepada Krjogja.com, Sabtu (4/9), mengatakan selain kaum dhuafa, bingkisan lebaran ini juga diberikan kepada sais dokar dan tukang becak di Salatiga.

“Anggaran untuk membeli bingkisan lebaran bagi 800 orang penerima, besarnya Rp 51 juta yang bersumber dari dana bantuan sosial,” ujar Valentino T Haribowo. (Sus)

Rabu, 11 Agustus 2010

ICW Minta Kejati Tuntaskan Kasus Sukawi postheadericon

Ilustrasi (Foto : Dok)

SEMARANG (KRjogja.com) - Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak jajaran Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah agar segera memproses kembali dan menuntaskan beberapa kasus dugaan korupsi dengan tersangka mantan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip.

"Desakan tersebut dalam bentuk surat bernomor 250/SK/BP/ICW/VIII/2010 yang kami layangkan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Salman Maryadi," kata Wakil Koordinator Badan Pekerja ICW Adnan Topan Husodo saat dihubungi melalui saluran telepon dari Semarang, Rabu (11/8).

Surat desakan tersebut juga ditembuskan ke Jaksa Muda Pidana Khusus (Jampidsus) dan Jaksa Muda Pengawas (Jamwas) Kejaksaan Agung serta pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan, Kejati Jateng harus segera melanjutkan pemeriksaan terhadap Sukawi Sutarip yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam beberapa kasus dugaan korupsi.

"Hal ini penting untuk dilakukan untuk menghindari munculnya kesan tebang pilih dalam setiap pemberantasan kasus dugaan korupsi di Jawa Tengah," ujarnya.

Menurut dia, pascalengsernya Sukawi Sutarip dari jabatannya sebagai Wali Kota Semarang dalam dua periode merupakan waktu yang tepat bagi penyidik Kejati Jateng untuk menuntaskan kasus dugaan korupsi yang merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah tersebut.

"Pemeriksaan tersangka saat ini sudah tidak memerlukan surat izin Presiden lagi sehingga tidak ada alasan untuk menunda lagi," kata Adnan. (Ant/Tom)