Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Bom Accu Mandala Krida Diledakkan Manual postheadericon

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bom accu yang meledak di kompleks Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Selasa (17/4/2012) lalu diduga diledakan secara manual. Bom jenis low eksplosiv ini tak diledakan menggunakan remote.

"Kami pastikan pelaku ada di lokasi saat bom itu meledak. Begitu kabel dihubungkan langsung meledak. Ini seperti saklar," kata Kasat Brimob Polda DIY, Kombes Gatot Sudibyo, Rabu (18/4/2012) siang.

Polisi yang melakukan penyisiran kemarin menemukan kabel panjang sekitar tujuh meter. Juga ditemukan plastik dan accu kering. Bom tersebut meledak tak lama usai sidang putusan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jateng-DIY, Bambang Tedi di gelar di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Bom tersebut diduga ditanam tak terlalu dalam di tepi jalan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. (www.tribunjogja.com)

TPA Asy-Syifa Sidorejo Peringati Hari Kartini Bersama Buruh Gendong postheadericon


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menyambut hari Kartini, TPA Asy-Syifa Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY akan menggelar acara peringatan bersama ibu-ibu buruh gendong pasar Gamping, Sleman.

Direktur TPA Asy-Syifa Sidorejo, Asnan Wiharno mengatakan dalam acara yang diberinama "Kartini-an TPA Asy-Syifa - Buruh Gendong" atau Kartini-an A-BG tersebut, para santriwati dan ustadzah TPA Asy-Syifa akan berkolaborasi dengan seorang buruh gendong untuk melakukan dramatisasi petikan surat Kartini.

“Petikan surat yang dibacakan adalah surat Kartini yang dikirimkan pada Tuan EC Abendanon, tanggal 17 Agustus 1902. Surat ini dipilih, karena, merupakan salah satu surat yang menguak sisi lain sosok RA Kartini. Yaitu, sosok Kartini sebagai seorang muslimah sejati, yang menjadikan Al Quran sebagai inspirasi perjuangannya,” ucap, Rabu (18/04/2012).

Saat putus asa dalam perjuangannya, Kartini ternyata kembali menemukan semangatnya setelah mempelajari Al Quran. Cucu tiri ibu Kartini mencatat, Kartini sangat terkesan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya dalam Surat. Al-Baqarah : 257. Karenanya, dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini sering mengulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” seperti tercantum dalam surat Al Baqarah tersebut. Kartini menterjemahkan kata-kata itu, dengan bahasa Belanda, yaitu “Door Duisternis Tot Licht”. Oleh Armijn Pane, kata-kata itu diterjemahkan dengan “Habis Gelap, Terbitlah Terang”, yang kemudian menjadi judul buku berisi surat-surat Kartini.

Selain dramatisasi surat Kartini, dalam acara ini juga akan dipertontonkan penampilan rebana dari ibu-ibu buruh gendong. Setelah itu, mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan testimoni atau pandangan mereka terkait sosok dan perjuangan RA Kartini. Pandangan dari buruh gendong ini dipandang menarik, karena, selama ini, pernyataan tentang Kartini lebih banyak disampaikan oleh tokoh-tokoh wanita, baik pejabat, pengusaha, politikus, artis dan sebagainya.

Acara lain yang juga diharapkan mampu meramaikan suasana adalah pembacaan puisi berjudul "Bagaimana Kami Juga Bisa Menerangi" oleh dua santriwati TPA Asy-Syifa Sidorejo. Puisi ini bercerita tentang keinginan para kartini kecil masa kini untuk selalu menjadikan perjuangan Kartini sebagai inspirasi. Mereka berterimakasih pada Kartini, bukan karena emansipasi --seperti didengungkan banyak orang--, namun, karena telah memberi inspirasi.

Dalam acara ini, juga akan digelar lomba mewarnai bertema Kartini, yang diharapkan bisa diikuti ratusan santri/wati dari berbagai TPA dan TK di wilayah Sidorejo. Acara akan digelar pada hari kamis. tanggal 19 April 2012, mulai pukul 15.00 WIB, di musholla Asy-Syifa Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY. "Selain penghargaan terhadap pahlawan bangsa, acara ini juga digelar untuk meningkatkan keimanan dan pemahaman agama para santri/wati TPA Asy-Syifa, Sidorejo, terutama terkait kecintaan terhadap kitab suci agama Islam, yaitu Al Quran, seperti pernah dilakukan RA Kartini sebagai seorang muslimah sejati," kata Asnan Wiharno, direktur TPA Asy-Syifa Sidorejo. (*)

Sabtu, 14 April 2012

Sultan Yogya Serukan Damai untuk Indonesia postheadericon

VIVAnews - Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, terus mengampanyekan perdamaian untuk Indonesia.

"Bahwa kepedihan di Indonesia adalah keprihatinan kita semua. Makna Bhinneka Tunggal Ika perlu dikedepankan kembali, bahwa di dalamnya mengandung watak bangsa, sikap, dan tindakan toleran, tanpa membedakan strata apa pun," ujar Sultan di hadapan puluhan ribu warga Yogya yang hadir menonton konser Voice For The East (Vote) di Alun-alun Selatan Yogyakarta.

Konser tersebut dimeriahkan oleh Slank, Glenn Fredly, Tompi, Gugun Blues Shelter, Shaggydog, Jogja Hip Hop Foundation, Superman Is Dead, Kua Etnika, NTT Bermusik, Edo Kondologit, Ras Muhammad, Melanie Subono, dan lainnya.

Di samping panggung, Sultan dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas beserta keluarga tampak setia menonton hingga selesai konser Minggu dini hari 15 April 2012.

Sultan juga mengatakan, merusak peradaban ternyata sangat mudah dalam waktu singkat, ketika tidak ada kepedulian dan kepekaan. Kekerasan massal marak, padahal peradaban didesain dengan kesadaran, kesengajaan, kebersamaan, dan komitmen yang didasari nilai-nilai kehidupan bersama yang paling dasar.

"Dari bumi Mataram kita serukan salam damai dari Yogya untuk Indonesia. Mari sama-sama kita sampaikan seruan ini. Tuhanku, jangan biarkan bangsa ini menangis lagi, jangan biarkan bumi menjadi tragedi," kata Sultan. (art)

Jumat, 13 April 2012

Sultan HB: Jangan Larang Siswi Hamil Ikut UN postheadericon

VIVAnews - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, tidak setuju adanya aturan yang melarang siswi hamil dilarang mengikuti Ujian Nasional. Sultan berharap siswi yang sedang hamil memperoleh hak yang sama seperti siswi lainnya untuk menjalani ujian mulai Senin 16 April mendatang.

"Kalau pendapat saya, pemerintah wajib memberikan pendidikan kepada rakyatnya. Kehamilan bukan sesuatu yang memalukan," kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Jumat 13 April 2012.

Sultan menyatakan tidak memiliki prasangka buruk terhadap siswi sekolah yang sedang hamil. Maka itu, sekolah-sekolah yang melarang siswi hamil untuk Ujian Nasional diimbau untuk mencabut aturan itu. "Toh tidak ada UU yang melarang siswi hamil dilarang mengikuti UN," kata Raja Yogya ini.

Menurut Sultan, ketika kehamilan terjadi pada seorang siswi maka proses belajar-mengajar harus tetap berjalan. Termasuk proses belajar-mengajar sampai proses ujian akhir. "Kalau tidak ada dasar melarang siswa hamil ikut UN maka jangan dilarang," kata Sultan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY Baskara Aji menambahkan, larangan siswa hamil untuk mengikuti Ujian Nasional tergantung tata tertib sekolah. Dinas Pendidikan tidak pernah mengeluarkan larangan, aturan itu tergantung dari sekolah masing-masing.

"Kami mengacu pada Daftar Normatif Tetap yang bisa mengikuti ujian. Baik kaya, miskin, laki-laki, perempuan, sehat, sakit, hamil, tidak hamil, senang sedih, semuanya boleh ikut Ujian Nasional," ujar dia. (ren)

Rabu, 11 April 2012

Keluarga Keraton Ziarah ke Makam HB IX postheadericon

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Memperingati 1 Abad Sri Sultan Hamengkubuwono IX, keluarga Keraton Yogyakarta beserta ratusan masyarakat ziarah ke makam Imogiri, Rabu (11/4/2012) malam.

Sejak sore warga sudah mulai berdatangan ke makam Imogiri. Mayoritas berpakaian peranakan(pakaian abdi dalem. Red). Selepas Isya dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Al Qur'an dan diikuti tahlil. Keluarga Kraton diwakili oleh GBPH Joyokusumo dan GBPH Prabukusumo.

Salah satu peziarah adalah juru kunci Gunung Merapi Mbah Asih, ia sengaja datang bersama rombongan dari Kinahrejo untuk memenuhi undangan Keraton dan sekaligus meneruskan amanah Mbah Maridjan, yaitu untuk meneladani sifat-sifat HB IX.

Menurutnya, sosok HB IX adalah sebagai pelindung masyarakat Jogja dan sosok pahlawan yang bijaksana. Dirinya juga mengenang sosok Sultan HB IX sangat perhatian pada masyarakat Merapi.

Sementara itu menurut GBPH Joyokusumo saat ditemui Tribun Jogja selepas acara tahlil mengatakan, malam ini adalah ziarah untuk mengenang Sultan HB IX, bagaimana sepak terjang beliau apa yang bisa dicontoh, dikembangkan dan dilestarikan dari beliau.

Ketokohan Sultan HB IX sudah diakui multidimensional. Justru rugi jika tidak melaksanakan ajarannya. Keluarga Kraton juga merasa tidak perlu untuk meminta pengakuan atas jasa-jasanya.

"Beliau berjuang secara ikhlas sebagai bagian dari bangsa Indonesia, mau dihargai atau tidak itu bukan tujuan utamanya," jelas Gusti Joyo. (TRIBUNJOGJA.COM)

Jumat, 06 April 2012

Kencan Semalam Mahasiswi Tertipu Luar Dalam postheadericon


YOGYA (KRjogja.com) - Kehormatan Dewi Yuliana (23) warga Purwodadi, Jawa Tengah direnggut oleh seorang teman yang belum lama dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook. Tak hanya itu saja, sepeda motor dan hand phone (HP) serta notebook miliknya juga dibawa lari Facebooker dari Malang, Jawa Timur yang mengaku bernama Arya Dwi Nugroho itu.

Perkenalan antara keduanya terjadi beberapa bulan lalu saat mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Purwodadi ini menerima permintaan perteman dari Arya. Perkenalan itu kemudian berlanjut dengan saling tukar nomor HP dan kemudian Arya mengajak gadis cantik ini untuk ketemuan.

Dewi pun menyambut ajakan Arya dan menyepakati untuk menjemput pemuda ini di Terminal Purwodadi, Selasa (3/5). Setelah betemu, benih-benih cinta Dewi mulai tumbuh dan akhirnya bersedia diajak Arya kencan ke Yogyakarta.

Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio warna merah berplat nomor K-3134-NF milik Dewi, keduanya melakukan perjalanan dari Purwodadi ke Yogyakarta. Setibanya di Yogyakarta sejoli yang baru kenal ini booking kamar di sebuah penginapan di bilangan Malioboro. Di kamar ini pula keduanya melepas rindu dan berhubungan badan layaknya suami istri.

Keesokan harinya, Rabu (4/4), Arya mengajak Dewi jalan-jalan dan berbelanja di sebuah tempat perbelanjaan kawasan Malioboro. Kepada korban, Arya berjanji akan membelikan baju sebagai tanda cintanya.

Saat itulah pelaku mulai beraksi. Ketika Dewi tengah mencoba-coba baju di kamar pas, Arya langsung keluar toko. Dengan kunci kontak sepeda motor korban yang ada di tangannya, Arya langsung membawa lari kendaraan Dewi. Tak lupa pelaku mampir kembali ke kamar penginapan untuk menguras hand phone (HP) serta notebook korban.

Dewi baru sadar jika ditipu setelah selesai mencoba-coba baju namun tak menjumpai Arya menemaninya di tempat perbelanjaan itu. Merasa diperdayai pemuda idaman yang baru dikenalnya, Dewi akhirnya melaporkan kasus penipuan dan penggelapan tersebut ke Polresta Yogyakarta.

“Sudah kami terima (laporannya). Sedang kami dalami kasus ini,” tegas Kapolresta Yogyakarta. Kombes Mustaqim melalui Paur Subag Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Haryanta di ruang kerjanya, Kamis (5/4). (Van)

Rabu, 19 Oktober 2011

Jelang Kurban, Distan Akan Beri Pelatihan postheadericon

Ilustrasi (Foto: Doc)

YOGYA (KRjogja.com) - Dinas Pertanian (Distan) DIY akan menggelar pelatihan dan apresiasi kepada 50 takmir masjid di DIY menjelang Idul Adha pada 26 hingga 27 Oktober 2011 mendatang. Pelatihan selama dua hari yang diadakan di Kantor Distan DIY akan memberikan teori dan praktek pemilihan dan penyembelihan hewan kurban yang memenuhi syarat atau layak disembelih.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmaver), Haris Handono mengatakan sejak tahun 2006 telah diselenggarakan apresiasi ini untuk memberikan pelatihan dan praktek kepada takmir-takmir masjid perwakilan dari kabupaten dan kota terkait pemilihan hewan kuran dan tata cara penyembelihan hewan kurban.

"Berdasarkan data dari Departemen Agama tahun 2010 jumlah masjid di DIY telah mencapai 6.800 sedangkan takmir masjid yang telah diberikan pelatihan baru 360 orang karena setiap tahunnya kita hanya mampu melatih 50 takmir masjid karena keterbatasan anggaran," ujarnya saat ditemui di Jalan Gondosuli Yogyakarta, Rabu (19/10).

Haris menjelaskan upaya pelatihan ini merupakan hasil kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Distan DIY agar para takmir masjid yang melakukan proses penyembelihan dan pemotongan hewan mengetahu tata cara yang benar dan sesuai kaidah agama yang disayaratkan.

"Dengan adanya apresiasi ini dapat meningkatkan pengetahuan baik secara teori maupu praktek para takmir masjid agar tidak terjadi kesalahan dalam pemotongan hewan kurban, mengingat tidak sembarang orang bisa melakukan pemotongan hewan kurban tersebut," katanya.

Selain itu, pihaknya bekerjasama dengan Kedokteran Hewan UGM akan melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban atau monitoring sejak H-14 hingga H-7 bagi para pedagang hewan kurban baik yang ada di pasar hewan maupun pedagang musiman hewan kurban.

"Para pedagang harus mempunyai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) bagi seluruh hewan yang dijual baik itu sapi, kambing maupun domba . Apabila berasal dari daerah lain atau luar kota harus disertai SKKH dari daerah asal hewan tersebut yang menyatakan bebas dari Penyakit Menular Hewan Strategis (PMHS) terutama dari penyakit Anthraks," pungkasnya. (Fir)

Rabu, 12 Oktober 2011

Ijab Berbahasa Jawa, Pernikahan Jeng Reni postheadericon

Gusti Kanjeng Ajeng (GKAj) Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara. Foto: Rani DL

YOGYA (KRjogja.com) - Pernikahan putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara dengan KPH Yudhaningrat yang akan digelar di Masjid Panepen, Kraton pada 17 Oktober nanti direncanakan menggunakan ijab qabul dengan bahasa Jawa. Pernikahan ini juga tidak dipimpin oleh penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, melainkan oleh pengulon atau penghulu khusus Kraton.

Penghulu KUA Kecamatan Kraton Ahmad Sakdiyah mengungkapkan, pada pernikahan Jeng Reni, panggilan akrab GKR Bendara, telah ditunjuk pengulon Kraton yakni H. Muksin Kamaludiningrat. Sultan sendiri nantinya yang akan menikahkan putrinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan beberapa perhiasan.

"Pada pernikahan Jeng Reni ini kami dari pihak KUA tidak memimpin langsung pernikahan melainkan hanya menghadiri dan mencatat. Karena pernikahan putri Sultan tersebut menggunakan pakem tradisi Kraton sehingga dipimpin oleh pengulon Kraton. Termasuk ijab qabul dengan bahasa Jawa," ujarnya, Kamis (13/10).

Menurutnya, segala persyaratan pernikahan yang harus disampaikan ke KUA, telah didaftarkan sejak 30 Juni lalu. Setelah dilakukan pencatatan dan memeriksa data, telah dilakukan pula penasihatan pra nikah oleh BP4. Pernikahan ini sendiri akan menggunakan tiga landasan hukum. Yakni sah secara undang-undang perkawinan, sah secara Islam dan sah sesuai dengan tradisi dan paugeran Kraton.

"KUA hanya akan menghadiri, mencatat dan melakukan administrasi. Semuanya pelaksanaan dilakukan oleh Kraton sesuai dengan tiga landasan hukum yang dijalankan. Untuk bahasa Jawa yang akan digunakan juga telah dituliskan dalam berkas. Pengantin pria yang berasal dari luar Jawa bisa menghafal atau membaca saat ijab nanti," imbuhnya. (Ran)

Selasa, 11 Oktober 2011

375 Jamaah Calon Haji Kota Yogyakarta Diberangkatkan postheadericon

Jamaah calon haji asal Kota Yogyakarta diberangkatkan. (Foto : Deny Hermawan)

YOGYA (KRjogja.com) - Sebanyak 375 jamaah calon haji (calhaj) dari Kota Yogyakarta yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 36 SOC diberangkatan dari Balaikota Yogyakarta, Rabu (12/10). Pelepasan rombongan yang terbagi dalam sembilan bus tersebut dilakukan oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti.

Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Yogyakarta, Fathoni menerangkan, rombongan hari ini akan berangkat menuju ke Asrama Haji Donohudan Boyolali. Selanjutnya, jamaah akan terbang menuju tanah suci Kamis (13/10) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

"Untuk kloter 36 SOC ini semuanya dari Kota Yogyakarta. Selanjutnya, kloter 41 SOC akan diberangkatkan besok, yang dari Kota Yogyakarta ada 63 orang. Kloter terakhir 90 SOC berangkatr tanggal 30 Oktober, yang dari Kota Yogyakarta 18 orang," papar Fathoni.

Usia para calon haji, ungkapnya, yang termuda adalah 19 tahun, sementara yang tertua berusia 87 tahun. "Beberapa orang memang sudah berumur 80-an, namun kondisinya masih fit dan lewat tes kesehatan terakhir mereka masih memungkinkan untuk berangkat," imbuhnya. (Den)

Suara Kraton Harus Disampaikan Melalui postheadericon

Ilustrasi. (Foto : Dok)

YOGYA (KRjogja.com) - Persoalan terkait paugeran (peraturan) di Kraton yang mengemuka dalam perkembangan pembahasan Rancangan Undang Undang Keistimewaan (RUUK) DIY diharapkan tidak memberikan kebingungan terutama bagi masyarakat. Pasalnya, kemunculan berbagai pendapat baik di lingkungan kerabat Kraton sendiri akan menimbulkan pertanyaan masyarakat.

Ketua DPRD DIY, Youke Indra Agung mengungkapkan, untuk berbicara mengenai persoalan Kraton, perlu adanya saluran resmi yang bisa dijadikan pegangan. Terlebih, Kraton sebagai suatu entitas yang dihormati harus memiliki jalur yang resmi pula dalam menyatakan pendapat. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari kebingungan ketika ada pendapat yang berseberangan antar kerabat Kraton.

"Kalau mau bicara Kraton, kita harus tau benaR representasi Kraton itu siapa. Tidak semua orang Kraton bisa mengeluarkan pendapat. Kalau berbicara soal tahta Sultan misalnya, ya beliau yang kita jadikan pegangan," ujarnya di gedung DPRD DIY, Selasa (11/10).

Dalam perkembangan terakhir, Sultan sempat menyatakan keinginan adanya perubahan dalam paugeran Kraton. Hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penyesuaian Kraton dengan kondisi terkini masyarakat termasuk dalam perkembangan tata pemerintahan. Sementara, beberapa kerabat Kraton lain justru menyebut tidak perlu ada perubahan dalam paugeran Kraton.

Menyikapi hal tersebut, Youke berharap agar masyarakat tetap menghormati sikap apapun yang diputuskan Kraton. Namun demikian, perlu dijadikan catatan bahwa suara yang disampaikan Kraton tersebut harus tetap melalui jalur yang resmi.

"Pernyataan itu perlu dicermati resmi atau tidak dari Kraton. Karena Kraton sebagai suatu entitas juga harus melalui saluran resmi. Kami secara prinsip dari DPRD akan tetap mengikuti suara resmi Kraton. Harus ada jalur juru bicara resmi Kraton. Dan kita hormati sikap Kraton, pegang apa yang disampaikan Ngarso Dalem," tandasnya. (Ran)

Minggu, 03 April 2011

Jadi Juru Kunci Merapi, postheadericon

Mas Lurah Suraksosihono atau Asih (Foto : Rani DL)
YOGYA (KRjogja.com) - Putra ketiga dari almarhum Mbah Maridjan yang terpilih menjadi Juru Kunci Gunung Merapi, Asih (44) mengaku sangat berterima kasih kepada Kraton Yogyakarta yang mempercayakan amanah tugas menjaga Merapi namun tetap mengutamakan  koordinasi dengan masyarakat untuk menjaga Merapi.

Asih yang sebelumya memiliki gelar Mas Bekel Anom Suraksosihono tersebut kini naik pangkatnya menjadi Mas Lurah Suraksosihono. Dalam menjalankan tugasnya nanti, Asih berjanji untuk memegang teguh aturan yang ada di Kraton Yogyakarta.

"Mudah-mudahan setelah saya diangkat menjadi Juru Kunci Merapi, saya dapat melaksanakan amanah dengan baik sesuai dengan persetujuan dan aturan yang ada di Kraton. Saya juga akan mengutamakan koordinasi dengan masyarakat," ujarnya usai pengumuman pengangkatan Juru Kunci Merapi di Ndalem Joyokusuman, Minggu (3/4).

Ia menuturkan, selama peran barunya menggantikan Mbah Maridjan, dirinya akan melakukan penyesuaian antara nilai-nilai tradisi Kraton dengan perkembangan teknologi. Ia juga akan terus mengikuti perkembangan yang terjadi di tingkat pemerintah.

Asih yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan administrasi di Universitas Islam Indonesia (UII) ini juga mengaku akan menyesuaikan diri dengan tugas lama di kampus dan tugasnya di Merapi. Sejauh ini, ia mengaku tak menemui kendala.

"Saya diberikan kelonggaran dari kantor untuk dapat menjalankan tugas menggantikan Bapak. Sejauh ini tidak ada kendala apapun," katanya.

Usai ditetapkan sebagai Juru Kunci Merapi, Asih mengaku belum memutuskan untuk bertempat tinggal dirumah ayahnya. Sementara ini ia masih menempati Shelter di Plosokerep Umbulharjo Cangkringan, Sleman. "Tetapi saya menunggu perkembangan saja nanti mau tinggal dimana," imbuhnya. (Ran)

Gudeg Mercon Bu Ngatinah, Nendang Pedasnya postheadericon

Sensasi pedas Gudeg Mercon Bu Ngatinah (Foto: Rani DL)
YOGYA (KRjogja.com) - Para penggemar gudeg pasti selalu mendapatkan rasa manis dan legit pasa masakan khas Yogyakarta ini. Namun, ada sensasi rasa berbeda jika mencoba Gudeg Mercon di seputaran Kranggan, Yogyakarta.

Gudeg racikan Ibu Ngatinah ini menyajikan gudeg bercampur sayur tempe ditambah potongan cabai hijau menggunung. Belum lagi sayur kreceknya yang berpadu padan dengan cabai rawit merah sehingga membuat lidah 'terakar'. Tak hera jika diberi nama mercon.

Menurut sang penjual, ide awal pembuatan adalah keinginan untuk membuat rasa gudeg yang berbeda dan tidak membosankan. Citarasa pedas dipilih karena dinilai banyak disukai oleh masyarakat. Terciptalah gudeg mercon yang memang benar adanya, selalu laris diserbu pelanggan.

"Ramuannya ya ngawur saja. Kalau biasanya gudeg hanya menyediakan sayur nangka, areh, krecek, potongan daging dan telur, maka gudeg mercon ini ada campuran sayur mercon dan aneka gorengan. Ternyata lidah masyarakat cocok dan justru banyak diminati," katanya.

Setiap kali berjualan, tak kurang 5 kilogram cabe hijau dan cabe rawit merah digunakan untuk meramu gudeg mercon. Rasa pedas yang tak terkalahkan dari gudeg ini disebut sebut baru satu satunya di Yogyakarta. Bu Ngatinah sendiri telah berjualan gudeg mercon sejak tahun 1992.

Salah seorang penggemar gudeng mercon, Adi Christiawan mengaku selalu menyempatkan diri untuk menikmati gudeg mercon. Terlebih, aktivitasnya yang baru berakhir pada malam hari membuat gudeg mercon menjadi alternatif kuliner yang cocok.

"Biasanya saya selalu berolahraga futsal hingga pukul 23.00 malam. Setelah lelah dan lapar, pasti selalu mampir kesini. Citarasanya tidak membuat eneg dan malah sensasi pedasnya gudeg membuat ketagihan," tuturnya.

Anda yang penasaran ingin menikmati gudeg ini, silahkan susuri seputaran pasar Kranggan tepatnya di sisi sebelah Barat Klenteng Poncowinatan Yogyakarta. Di sebuah trotoar akan terlihat kerumunan ramai penggemar gudeg mercon yang mengantri.

Gudeg mercon buka mulai pukul 23.00 malam hingga pukul 04.00 pagi. Harganya juga bervariasi. Mulai Rp12 ribu untuk gudeg suwir, Rp14 ribu untuk gudeg suwir telur dan Rp20 ribu untuk gudeg paha. Anda juga bisa menambahkan aneka gorengan yang tersedia. Selamat mencoba. (Ran)

Selasa, 04 Januari 2011

Hujan Tak Surutkan Semangat Peserta Kirab Yogyakarta Kota Republik postheadericon

Para peserta kirab dengan semangan turun ke jalan memeriahkan kirab budaya Yogyakarta Kota Republik. (Foto : Fira Nurfiani)
YOGYA (KRjogja.com) - Meskipun hujan mengguyur kawasan Malioboro, namun hal itu tak menyurutkan warga Yogyakarta peserta kirab budaya 'Yogyakarta Kota Republik', Selasa (4/1). Sepanjang jalan, massa tetap semangat menggelar berbagai kesenian hingga menuju Pagelaran Kraton Yogtakarta, Selasa (4/1).
"Kami benar-benar merupakan bagian dari warga Yogyakarta yang tidak dapat dipisahkan, jadi jika ada yang mengusik ketenangan Yogyakarta baik itu pemerintah pusat sekalipun akan kami bela mati-matian untuk menegakkan keutuhan dan keistimewaan Yogyakarta," ujar Koordinator Paguyuban Becak Malioboro, Agus kepada KRjogja.com, Selasa (4/1).
Agus mengatakan dia bersama teman-temannya bahkan rela tidak bekerja selama setengah hari dan menghiasi becaknya dengan berbagai aksesoris yang meriah untuk meramaikan kirab tersebut. Selain itu dia mengaku tidak mengharapkan imbalan apapun karena mereka merupakan bagian dari Kota Yogyakarta yang lahir dan hidup di Bumi Mataram.
Ditambahkan seorang peserta kirab budaya dari Yogyakarta Amerikan Jeep, Tedi mengatakan, dari komunitas mobil jeep yang ada di DIY juga tidak ingin kalah memeriahkan pawai ini. Pihaknya juga membawa foto-foto pahlawan Yogyakarta dari Hamengku Buwono IX, Paku Alam VIII, Bung Karno dan lain-lain.
"Mereka adalah tokoh-tokoh yang dianggap sangat berjasa perjuangannya dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta selama ini sehingga mereka sangat layak dijuluki sebaga Pahlawan Yogyakarta Kota Republik," katanya.
Sementara itu seniman yang terlibat seperti Hendro Pleret juga mengatakan, hal ini merupakan wujud dukungan penuh masyarakat Yogyakarta atas Keistimewaan DIY dan wujud kongkrit dari pencanangan Yogyakarta Kota Repblik yang akan dilaksanakan usai kirab langsung oleh Sri Sultan HB X yang didukung para bupati dan walikota kabupaten dan kota se-DIY.
"Disini saya memerakan Bung Karno yang pada waktu itu datang ke Yogyakarta dan meminta pertolongan kepada Sri Sultan HB IX. Dengan kemurahan hati Raja Bumi Mataram Sri Sultan HB IX tersebut Yogyakarta dijadikan sebagai ibukota NKRI yang semula berada di Jakarta untuk menjaga keberlangsungan pemerintahan dan keutuhan NKRI," ungkapnya. (Fir)

Sejarawan Harap Pemerintah Hargai Sejarah Keistimewaan DIY postheadericon

YOGYA (KRjogja.com) - Pemerintah seharusnya tidak mengabaikan fakta sejarah bahwa Yogyakarta yang dahulu sebagai ibukota negara memberikan andil bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saat itu baru terbentuk. Selama empat tahun, dari 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949, ibukota RI berada di Yogyakarta. Pada saat itu pula, Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan secara politis dan memiliki posisi strategis dalam perjuangan dan pertahanan kemerdekaan.

"Posisi Yogyakarta dengan keistimewaaannya jika berlatar belakang sejarah seharusnya tidak bisa dipisahkan dan dihilangkan. Keistimewaan itu diantaranya posisi Sultan sebagai Raja Keraton serta Paku Alam sebagai Adipati Pakualam," kata Sejarawan UGM, Prof. Dr. Suhartono dalam Peringatan ‘Republik Yogya’ di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Selasa (4/12).

Menurut Guru Besar Sejarah UGM ini, berpindahnya ibukota RI saat itu bukan tanpa alasan. Situasi Jakarta kala itu dalam kondisi tidak aman dan roda pemerintahan RI macet total akibat adanya unsur-unsur yang saling berlawanan. Di satu pihak, pasukan Jepang masih memegang satus quo, sementara di pihak lain, ada pihak sekutu yang diboncengi NICA. Saat situasi Jakarta makin genting dan keselamatan para pemimpin bangsa terancam, atas inisiatif Sri Sultan HB IX, ibukota RI pun dipindah ke Yogyakarta. "Di sini, (Yogyakarta) infrastruktur, elit bangsawan sudah lengkap. Bagaimana seandainya republik yang masih muda tidak dilindungi dari Yogyakarta tanpa kesediaan dari HB IX? Hasilnya akan lain," tuturnya.

Dikatakannya bahwa dari Yogyakarta, persoalan politik bangsa kala itu dikoordinasikan. Semua itu dapat ditangani dengan baik berkat kepemimpinan HB IX. "Sudah bukan rahasia lagi bahwa HB IX berperan besar dalam mengelola Republik Yogya sehingga semuanya berjalan lancar dan cita-cita Republik menuju persatuan bangsa dan pengakuan kedaulatan dapat terlaksana dengan baik," katanya.

Dipilihnya Yogyakarta sebagai ibukota RI adalah atas pandangan politik dan keberanian Sultan HB IX untuk mengambil risiko. Dapat dikatakan bahwa HB IX dan masyarakatnya merupakan penyambung kelangsungn RI dalam menghadapi agresi militer Belanda. "HB IX merupakan aktor intelektualis yang memiliki multistatus. Selain sebagai raja, kepala derah, menteri pertahanan, Sultan adalah key person dan juru runding dengan Belanda, juga sebagai figur kunci birokrasi sipil di Indonesia," tambahnya.

Prinsip yang dikenal dari HB IX, ‘tahta untuk rakyat’, adalah perubahan paradigma yang sangat luar biasa sebagaimana tersirat tentang kewajiban seorang raja untuk mengayomi rakyat dengan pengorbanan moril dan materiil yang tulus. "Kejujuran dan kesederhanaannya merupakan dasar kepribadiannya demi kemanunggalan antara Sultan dan kawulanya (rakyat). Inilah teladan yang patut dicontoh oleh generasi muda sekarang ini," katanya. (Diolah dari www.ugm.ac.id)

Cara Pandang Demokrat Atas RUUK DIY Harus Dihormati postheadericon

Roy Suryo. (Foto : Dok)
YOGYA (KRjogja.com) - Anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrat, Roy Suryo mengaku akan menghormat aspirasi yang berkembang di kalangan warga Yogyakarta terkait polemik penyelesaian Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY. Dirinya mengaku akan mengawal proses pembahasan RUUK DIY agar tidak dibumbui dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
"Kita saling melakukan dialog dengan sangat clear dan ujungnya tetap sama. Saya sangat menghormati bagaimana aspirasi yang berkembang di Yogyakarta dan makanya tugas saya selaku wakil rakyat yang ada di Yogyakarta itu memang baru berawal ketika nanti RUU itu sudah dibahas di komisi II. Kita kawal bersama sesuai dengan aspirasi yang berkembang," ujarnya ketika ditemui disela Stadium Ggenerale 'Republik Yogyakarta' di Gedung Pusat Kebudayaan UGM, Yogyakarta, Selasa (4/1).
Menurutnya, dalam memandang berbagai persoalan, dirinya bersama dengan Partai Demokrat terus mengedepankan sikap demokratis. Dalam kaitannya dengan RUUK DIY ini, Partai Demokrat memiliki sikap yang harus dimaklumi sebagai partai yang mengamankan kebijakan pemerintah.
"Demokrat adalah partai yang harus dimaklumi sebagai partai yang mengamankan kebijakan pemerintah. Pemerintah itu tidak boleh dipisah-pisah, yakni pemimpinnya presiden dan pembantu presiden itu salah satunya adalah Mendagri kita Gamawan Fauzi. Tentu beliau punya satu program atau langkah (terkait RUUK DIY) yang harus kita hormati dan wakil rakyat itu yang nanti akan memperjuangkan sesuai dengan aspirasi rakyat, apa kata rakyat itu yang akan kita perjuangkan," katanya.
Dirinya mengaku sempat memiliki kekhawatiran jika persoalan RUUK DIY ini justru akan dibawa seperti halnya kasus Century yang tak kunjung selesai. Karenanya, selaku wakil rakyat dirinya tetap akan terus mengawal perjalanan RUUK DIY bersama dengan rakyat.
"Saya khawatir jika nanti RUUK DIY ini justru akan dibuat seperti Century. Jadi artinya masyarakat Yogyakarta itu sebenarnya sudah bisa menyelesaikan sendiri, aspirasinya juga jelas, dan sebenarnya tidak perlu ada tambahan bumbu lain seperti halnya Century yang sebenarnya sudah jelas kebijakannya. Karena itulah kita amankan RUUK DIY ini sesuai aspirasi rakyat Yogyakarta," imbuhnya. (Ran)

Sultan Belum Terima Surat Teguran Gamawan Fauzi postheadericon

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. (Foto : Dok)
YOGYA (KRjogja.com) - Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengaku belum menerima surat dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi terkait teguran yang diberikan kepada Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk dukungan terhadap Keistimewaan DIY beberapa waktu lalu. Meski demikian, Sultan mengaku akan segera mengadakan dialog dengan walikota untuk memperjelas duduk permasalahan sebenarnya.
"Saya belum baca suratnya, saya belum menerima. Tadi saya bongkar semua surat belum ada. Saya kan perlu tahu dulu masalahnya seperti apa dan apakah itu aturannnya ada dalam undang-undang seperti apa kan harus saya baca dulu," ujar Sultan di komplek Kepatihan, Selasa (4/1).
Menurut Sultan, perlu dicari tahu terlebih dahulu apakah pengibaran bendera setengah tiang tersebut merupakan inisiatif pribadi atau mengatasnamakan golongan tertentu dalam pemerintahan atau lainnya. Pasalnya jika hal tersebut dilakukan secara pribadi, maka akan sulit untuk memberikan tindakan.
"Saya perlu tanya dulu pada Pak Wali, itu atas nama walikota atau pribadi. Kan saya belum tahu. Kalau dilakukan secara pribadi ya susah," ungkap Sultan.
Selaku Gubernur, Sultan juga belum tahu apakah akan memberikan teguran secara langsung kepada walikota atau akan melakukan tindakan lain. Dikatakan Sultan, dalam menyelesaikan masalah tersebut yang paling penting adalah bukan soal teguran atau tidak melainkan kejelasan dari persoalan yang sebenarnya.
"Saya kan belum tahu suratnya, apakah saya disuruh negur atau bagaimana kan saya belum tahu. Yang penting bagi saya bukan masalah menegur atau tidak, yang penting diclearkan dulu masalahnya apa. Mungkin sudah ada beberapa kasus yang terjadi. Tapi kalau dilakukan secara pribadi terus bagaimana," imbuh Sultan. (Ran)

Kirab Budaya Yogyakarta Kota Republik Bernuansa Perjuangan postheadericon

Opening Kirab Budaya Yogyakarta Kota Republik yang bernuansa perjuangan. (Foto : Fira Nurfiani)
YOGYA (KRjogja.com) - Nuansa perjuangan hadir dalam kirab budaya napak tilas berpindahnya ibukota NKRI dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 lalu yang digelar di sepanjang Jalan Malioboro, Selasa (4/1). Kirab budaya bertajuk 'Yogyakarta Kota Republik' ini diikuti sekitar 100 elemen masyarakat DIY dan melibatkan puluhuan ribu warga untuk mendukung Yogyakarta sebagai Kota Repulik.
Koordinator Panitia Bersama, Widihasto Wasana Putra mengatakan, kirab ini dimaksudkan  untuk mengenang kembali sejarah Yogyakarta yang secara sukarela bergabung dengan NKRI serta peringatan Yogyakarta sebagai ibukota Indonesia saat itu. Para peserta kirab dari berbagai elemen ini mengetengahkan konsep yang sama, yaitu bernuansa perjuangan.
"Mereka berpartisipasi dengan sukarela untuk mendukung penetapan Yogyakarta sebagai Kota Republik," ujarnya saat ditemui KRjogja.com di Stasiun Tugu Yogyakarta, tempat dimana massa berkumpul.
Widihasto menambahkan, untuk mencegah penumpukan massa, kirab ini dibagi menjadi tujuh titik kumpul massa, yakni Stasiun Tugu, Hotel Inna Garuda, Dinas Pariwisata DIY, Gedung DPRD DIY, dan Gerbang Kepatihan serta Benteng Vredeburg. “Tak hanya warga Yogyakarta, kirab ini juga diikuti oleh semua elemen masyarakat yakni dari perwakilan Riau, Sumatera Barat, NTT, Maluku dan Kalimantan Barat,” tambahnya. (Fir)

Sabtu, Tarif KA Ekonomi Naik postheadericon

Ilustrasi (Foto : Dok)
YOGYA (KRjogja.com) - PT Kereta Api (Persero) akan memberlakukan tarif baru untuk kelas ekonomi per Sabtu (8/1) karena tarif lama sudah tidak proporsional untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat

Kepala Humas PT KA Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto mengungkapkan penyesuaian itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2010 dan sejalan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kenaikan berlaku untuk KA Progo jurusan Lempuyangan - Pasar Senen dari Rp 35 ribu menjadi Rp 41 ribu, KA Sri Tanjung jurusan Lempuyangan - Banyuwangi dari Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu dan KA Bengawan jurusan Solo Jebres - Tanah Abang dari Rp 36 ribu menjadi Rp 43 ribu.

Kendati demikian, kata Eko pemerintah tetap mengalokasikan subsidi sepanjang tahun 2011 sebesar Rp635 miliar meskipun belum mampu menutup biaya operasional seperi BBM non subsidi. Sedangkan dana idealnya adalah  Rp 716 miliar.

"Masih ada kekurangan dana Rp85 miliar.Untuk menutupi kekurangan itu, diberlakukan tarif baru kereta ekonomi. Kami akan mengimbanginya dengan meningkatkan pelayanan," imbuhnya. (Ran)

Banjir Lahar Lumpuhkan Jalur Yogya-Magelang postheadericon

VIVAnews - Luapan banjir lahar dingin Kali Putih yang berlangsung sejak kemarin malam hingga Selasa pagi ini, 4 Januari 2011, masih menyebabkan jalur Magelang-Yogyakarta terputus.
Berdasarkan pantauan VIVAnews, di jembatan Gempol, Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, hamparan lahar menimbun rumah warga baik yang ada di utara maupun selatan Jalan Magelang-Yogyakarta di Km 23. Lahar juga menimbun pemakaman umum Giriloyo Gempol dan sejumlah kendaraan.

Fauzan, salah seorang petugas dari Komunikasi Peduli Aktivitas Merapi, mengatakan banjir lahar dingin itu sangatlah besar sampai-sampai aliran sungai sempat berpindah jalur melalui perkampungan Gempol. Luapan material banjir juga menyebabkan pendangkalan dasar sungai sekitar dua meter.
"Sekarang talud sungai saja sudah tidak terlihat dan rata dengan material. Ini merupakan banjir yang paling besar," ujar dia kepada VIVAnews.com.

Luapan banjir tersebut menyebabkan 160 warga Gempol yang terisolir dievakuasi ke posko pengungsian balai desa Jumoyo. "Warga Gempol sudah dievakuasii semua. Nanti warga Candi yang terletak di selatan Gempol juga akan dievakuasi karena terisolasi," dia menerangkan.

Banjir lahar dingin di Kali Putih menyebabkan aliran sungai berbelok dan pindah  ke arah Timur sekitar 200 meter dari aliran sungai yang lama. Bahkan, batu-batu dengan ukuran cukup  besar juga terlihat memenuhi  Dusun Gempol.

Mengenai jumlah rumah warga yang tertimbun material banjir lahar dingin, Fauzan mengatakan hingga saat ini belum dilakukan pendataan. "Kami belum tahu jumlahnya berapa yang rusak terkena banjir," katanya
Hingga saat ini arus lalu lintas kendaraan, baik dari Magelang menuju Yogyakarta, maupun sebaliknya, dialihkan melalui jalur Kalibawang melewati Dekso dan Godean. (Laporan: Fajar Sodiq, Magelang | kd)
• VIVAnews

Kamis, 09 Desember 2010

PERLU TAMBAHAN KUOTA GAS 3 KG ; Harga-harga Kebutuhan Pokok Naik postheadericon

YOGYA (KR) Harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Yogyakarta mengalami kenaikan Rp 200-Rp 500/kg, terutama beras. Para pedagang menyatakan, hujan di musim kemarau salah satu penyebab naiknya harga beras, karena sawah tergenang banjir, selain juga kesulitan menjemur gabah. Kendati demikian, masyarakat tetap memburu beras kualitas baik.
Seperti dituturkan Ny Nur Zamhurri yang berjualan di Pasar Pingit Kota Yogyakarta. Beras dia jual pada kisaran harga Rp 6.700-Rp 7.500/kg. Sementara beras kemasan dalam plastik ada yang nencapai Rp 10.500/kg. Gula pasir Rp 10.200/kg, sedangkan minyak goreng curah sawit Rp 11.000/kg dan barco 15.000/kg. "Telur saya jual Rp 13.500/kg," kata Ny Nur Zamhurri di Pasar Pingit, Selasa (7/12).
Wanti, pedagang di Pasar Sambilegi Maguwoharjo Depok Sleman hanya menyediakan satu jenis beras dengan harga Rp 7.000/kg. Menurutnya, pembeli rumah tangga tetap mencari harga kualitas bagus meskipun harganya naik. Telur dia jual Rp 13.000/kg, gula pasir Rp 10.500/kg, dan gula kelapa Rp 9.000/kg. Untuk minyak goreng curah sawit dia jual Rp 11.000/kg dan Rp 10.000/liter.
Tidak jauh beda dengan Ny Cipto yang juga berjualan di Pasar Sambilegi, beras dia jual pada kisaran harga Rp 6.000-Rp 7.000/kg. Beras merah dengan harga Rp 7.000/kg, telur Rp 13.500/ kg, gula pasir Rp 10.500/kg, minyak goreng sawit Rp 10.000/kg dan barco Rp 14.000/kg. Komoditas lainnya yang ikut naik adalah mie telur. Tadinya hanya Rp 9.000/kemasan kini mencapai Rp 10.000.
Sementara itu Pemkab Temanggung belum akan menggelar operasi pasar untuk menekan kenaikan harga beras, kendati harga bahan pokok itu kian melambung di pasar. Pemerintah masih menunggu perkembangan pasar dalam beberapa hari ke depan.
"Belum ada rencana menggelar operasi, memang harga beras terus naik," kata Kepala Disperindagkop dan UMKM  Temanggung Rony Nurhastuti.
Menurutnya, diperlukan pemenuhan berbagai persyaratan untuk dapat menggelar operasi pasar. Di antaranya bila harga beras di pasar terus melambung dan diprediksi tidak dapat terbendung. Pemerintah, kini sedang mengucurkan beras miskin yang diharapkan dapat menekan harga  pasar.
Terkait kelangkaan gas/elpiji kemasan tabung 3 kg, Pemkab Wonosobo melalui Disperindag mengusulkan penambahan kuota gas 3 kg ke pihak Pertamina. Kuota yang sebelumnya hanya 7.779 tabung/hari, diusulkan naik menjadi 11.700 tabung/hari.
"Kami sudah mengusulkan penambahan kuota tabung gas 3 kg ke Pertamina. Usulan itu mempertimbangkan aspek kebutuhan riil di lapangan untuk menghindari terjadinya kelangkaan gas di masyarakat," tandas Kepala Seksi Perlindungan Konsumen Disperindag Wonosobo Drs Oman Yanto.     (War/Osy/Art) - g