Selasa, 04 Januari 2011

Kirab Budaya Yogyakarta Kota Republik Bernuansa Perjuangan postheadericon

Opening Kirab Budaya Yogyakarta Kota Republik yang bernuansa perjuangan. (Foto : Fira Nurfiani)
YOGYA (KRjogja.com) - Nuansa perjuangan hadir dalam kirab budaya napak tilas berpindahnya ibukota NKRI dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 lalu yang digelar di sepanjang Jalan Malioboro, Selasa (4/1). Kirab budaya bertajuk 'Yogyakarta Kota Republik' ini diikuti sekitar 100 elemen masyarakat DIY dan melibatkan puluhuan ribu warga untuk mendukung Yogyakarta sebagai Kota Repulik.
Koordinator Panitia Bersama, Widihasto Wasana Putra mengatakan, kirab ini dimaksudkan  untuk mengenang kembali sejarah Yogyakarta yang secara sukarela bergabung dengan NKRI serta peringatan Yogyakarta sebagai ibukota Indonesia saat itu. Para peserta kirab dari berbagai elemen ini mengetengahkan konsep yang sama, yaitu bernuansa perjuangan.
"Mereka berpartisipasi dengan sukarela untuk mendukung penetapan Yogyakarta sebagai Kota Republik," ujarnya saat ditemui KRjogja.com di Stasiun Tugu Yogyakarta, tempat dimana massa berkumpul.
Widihasto menambahkan, untuk mencegah penumpukan massa, kirab ini dibagi menjadi tujuh titik kumpul massa, yakni Stasiun Tugu, Hotel Inna Garuda, Dinas Pariwisata DIY, Gedung DPRD DIY, dan Gerbang Kepatihan serta Benteng Vredeburg. “Tak hanya warga Yogyakarta, kirab ini juga diikuti oleh semua elemen masyarakat yakni dari perwakilan Riau, Sumatera Barat, NTT, Maluku dan Kalimantan Barat,” tambahnya. (Fir)

Sabtu, Tarif KA Ekonomi Naik postheadericon

Ilustrasi (Foto : Dok)
YOGYA (KRjogja.com) - PT Kereta Api (Persero) akan memberlakukan tarif baru untuk kelas ekonomi per Sabtu (8/1) karena tarif lama sudah tidak proporsional untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat

Kepala Humas PT KA Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto mengungkapkan penyesuaian itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2010 dan sejalan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kenaikan berlaku untuk KA Progo jurusan Lempuyangan - Pasar Senen dari Rp 35 ribu menjadi Rp 41 ribu, KA Sri Tanjung jurusan Lempuyangan - Banyuwangi dari Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu dan KA Bengawan jurusan Solo Jebres - Tanah Abang dari Rp 36 ribu menjadi Rp 43 ribu.

Kendati demikian, kata Eko pemerintah tetap mengalokasikan subsidi sepanjang tahun 2011 sebesar Rp635 miliar meskipun belum mampu menutup biaya operasional seperi BBM non subsidi. Sedangkan dana idealnya adalah  Rp 716 miliar.

"Masih ada kekurangan dana Rp85 miliar.Untuk menutupi kekurangan itu, diberlakukan tarif baru kereta ekonomi. Kami akan mengimbanginya dengan meningkatkan pelayanan," imbuhnya. (Ran)

BKD Peringatkan Agung Wisdha postheadericon

Ilustrasi. (Foto : Dok)
BANTUL (KRjogja.com) - Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD Bantul memberi peringatan kepada Agung Wisdha, anggota DPRD Bantul dari Fraksi Karya Bangsa (FKB) karena kembali tidak hadir saat akan dimintai keterangan. Pemanggilan ini dilakukan terkait absensi Agung Wisdha yang sudah selama 2 bulan tidak masuk kerja dengan alasan sakit.
Menurut anggota BKD DPRD Bantul, Slamet Bagyo, sedianya Agung Wisdha dipanggil pada Senin (3/1). Namun karena hingga sore hari tidak datang, akan dilakukan penjadwalan ulang. ”Tentu kami akan ngaruhke karena dua bulan tidak masuk,” terangnya di Gedung DPRD Bantul, Selasa (4/1).
Dia menilai bahwa, BKD akan mempertanyakan kepada Agung Wisdha, kenapa sakit sampai 2 bulan, namun tidak ada kejelasan. Meski mengaku kinerja DPRD tidak terganggu tanpa kehadiran Agung Wisdha, namun BKD berkewajiban untuk memantau kinerja setiap anggota agar mampu bekerja maksimal. ”Mungkin ada alasan lain ketidakhadiran dan tidak mengikuti rangkaian kerja DPRD,” kata Slamet.
Disinggung mengenai agenda DPRD yang tidak diikuti oleh Agung Wisdha, Slamet mengatakan ada satu sidang paripurna dan beberapa kegiatan komisi. ”Namun itu semua masih ada surat izin sakitnya,” jelasnya.
Ketua Komisi C DPRD Bantul, Drs Agus Subagyo, tempat Agung Wisdha menjadi anggota di alat kelengkapkan DPRD, menyerahkan persoalan kinerja yang bersangkutan kepada fraksi dan induk partai, PKPB. (*-7)

LONGSOR BUKIT PUTIH Alat Berat Buka Akses Jalan postheadericon

Material longsor menutupi akses jalan (Foto:Bambang Purwanto)
WONOSARI (KRjogja.com) - Alat berat mulai diterjunkan untuk proses evakuasi rumah warga yang hancur akibat tertimbun longsor Bukit Putih Mudon Tancep Ngawen karena material longsoran terdiri dari batu berukuran jalan dan menutup akses jalan.

"Prioritas evakuasi untuk membuka akses jalan yang terputus akibat longsoran dan beberapa rumah warga masih tertimbun. Misalnya, rumah Mulyadi, Sriyanto dan Sastro. Proses evakuasi juga dibantu relawan dari PMI Gunungkidul, Tagana dan Tim SAR, " kata Kepala Kesbangpolinmas PB Gunungkidul Kasiyo kepada KRjogja.Com Selasa (4/1) pagi.

Menurut Kasiyo hujan deras yang mengguyur, Senin (3/1) malam masih memicu terjadinya longsor. Namun, warga yang bermukim di sekitar itu sudah diungsikan ke Balai Desa Tancep dan di rumah warga yang aman. Selain itu, pemkab membuka dapur umum dan masih mendata korban jiwa ataupun kerugian materiil. (Bmp)

Sekolah dihimbau Persiapkan Siswa Hadapi UN 2011 postheadericon

Ilustrasi
WATES (KRjogja.com) - Dinas Pendidikan Kulonprogo meminta seluruh sekolah mempersiapkan pelaksanaan Ujian Nasional 2011 yang kemungkinan dilaksanakan pertengahan bulan April 2011. Sedangkan pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) bagi siswa SD awal bulan Mei 2011. Berbeda dengan pelaksanaan tahun pelajaran sebelumnya, UN 2010/2011 untuk SMP/MTs, SMA/MA dan SMK hanya dilaksanakan sekali.
" Perbedaan mendasar dengan UN 2009/2010, tahun ini UN diadakan hanya sekali sehingga tidak ada UN ulangan. Perbedaan mendasar lainnya, ujian sekolah dilaksanakan sebelum UN," kata Subardi SPd, Kepala Sub Bagian Umum dan Perencanaan Dinas Pendidikan Kulonprogo usai memberikan pengarahan kepada para pengawas sekolah di Aula Gedung Pertemuan Dinas Pendidikan Kulonprogo, Senin (3/1).
Menurutnya Kementerian Departemen Pendidikan Nasional (Kemendiknas) segera mengirimkan juknis pelaksanaan UN dan UASBN 2010/2011. Untuk waktu pelaksanaannya sudah dipastikan mulai pertengahan bulan April untuk UN dan UASBN awal bulan Mei 2011.
Ada empat perbedaan mendasar dalam UN tahun ini dibandingkan dengan UN sebelumnya. Selain UN diadakan hanya sekali dan dilaksanakan setelah ujian sekolah, pemindaian atau scanning lembar jawaban UN SMA/MA dan SMK oleh Perguruan Tinggi Negeri. Kemudian penentuan kelulusan siswa mengikutsertakan nilai sekolah 40 persen dan nilai UN 60 persen. Nilai sekolah diambil dari gabungan nilai ujian sekolah 60 persen dan nilai raport siswa pada semester tiga, emat dan semester lima sebesar 40 persen.
Proses penggabungan nilai dilakukan oleh Pusat Pendidikan Kemendiknas. Penyelenggara sekolah harus mengirimkan nilai mata pelajaran yang di-UN-kan maupun mata pelajaran yang tidak di-UN-kan, paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan UN. "Syarat kelulusan untuk nilai gabungan minimal 4,00, nilai rata-rata gabungan 5,50 dan nilai kompetensi keahlian SMK minimal 7.00. Nilai kompetensi keahlian merupakan gabungan nilai praktek 70 persen dan nilai teori 30 persen," katanya. (Ras)

Jalan Triharjo - Bendungan Longsor postheadericon

Pembangunan bangket Sungai Serang mangkrak, ruas jalan alternatif Simpang Empat Tambak Triharjo-Bendungan tergerus. (Foto : Asrul Sani)
KULONPROGO (KRjogja.com) - Pengerjaan pembangunan bangket Sungai Serang di Desa Triharjo Kecamatan Wates, terhenti. Sementara dinding sungai telah dikeruk menyebabkan jalan alternatif Simpang Empat Tambak Triharjo - Bendungan Wates tergerus.
Anggota DPRD Kulonprogo, Soleh Wibowo menjelaskan, dengan tergerusnya ruas jalan tersebut maka bisa menimbulkan kecelakaan bagi pengendara bermotor maupun terjadinya banjir yang berpotensi merendam daerah pemukiman yang ada di pinggir Sungai Serang.
"Terutama kalau malam hari, jalan di pinggir Sungai Serang di sangat berbahaya. Disamping tidak ada lampu penerangan jalan, ruas jalannya juga mengalami kerusakan. Jika pengendara tidak hati-hati atau tidak tahu medan maka bisa terjebur sungai," katanya di Kulonprogo, Senin (3/1).
Sementara itu Jemino (30) warga Desa Triharjo yang rumahnya berdekatan dengan Sungai Serang membenarkan mangkraknya proyek pembangunan bangket Sungai Serang. "Kemarin ada orang yang bekerja, tapi hari ini tidak ada lagi. Pengerjaan proyek itu (bangket-Red.) memang kadang-kadang berjalan tapi lebih sering mandeg," katanya.
Dijelaskan, meskipun belum ada korban yang jatuh di dekat proyek pembanguan bangket tersebut, tapi dengan kondisi dinding sungai dikeruk dan tidak segera dibangket, sangat berbahaya bagi pengendara yang melintas.
"Kalau ditanya sudah pernah ada yang jatuh atau belum. Setahu saya memang belum ada, tapi jalan itu tetap berbahaya. Karena selain tergerus, aspal jalan itu sudah banyak yang mengelupas, sehingga terdapat lubang cukup dalam," terangnya lagi. (Rul)

Hari Pertama Pendaftaran Cabup PDIP Berlangsung Sepi postheadericon

Ilustrasi. (Foto : Dok)
KULONPROGO (KRjogja.com) - Hari pertama pendaftaran bakal calon (Balon) Bupati yang dilakukan Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPC PDIP Kulonprogo, Senin (3/1) ternyata belum dimanfaatkan oleh para kandidat calon bupati (Cabup). Hal itu terbukti dengan belum adanya balon bupati yang mendaftar secara resmi di sekretariat partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
Kendati demikian, tiga nama meliputi Endang Darmawan, Zuhadmono Azhari dan Hasto Wardoyo sudah mengikuti tahapan wawancara yang dilakukan tim penjaringan Cabup PDIP Kulonprogo.
"Hari pertama pendaftaran memang belum ada Balon yang mendaftar. Kalau sekadar mengklarifikasi masalah waktu dimulainya pendaftaran balon bupati sudah ada. Tadi timnya pak Zuhad sudah ke sekretariat," kata anggota Bappilu DPC PDIP setempat, Bambang Sumbogo, Senin (3/1).
Sebelumnya, Balon Bupati Hasto Wardoyo yang mengikuti tahapan wawancara mengaku mantap maju sebagai balon bupati melalui PDIP. "Tekad saya sudah bulat melalui PDIP. Saya juga telah melakukan koordinasi dengan teman-teman maupun saudara yang ada di Kulonprogo," katanya seusai wawancara dengan Tim Penjaringan Cabup PDIP Kulonprogo, akhir tahun kemarin.
Menyinggung visi dan misinya, Hasto mengaku akan mengembangkan ekonomi kerakyatan. Menurutnya ekonomi kerakyatan merupakan tulang punggung bagi masyarakat di Kabupaten Kulonprogo, sehingga sangat penting dilanjutkan. Dijelaskan, kendati selama ini dirinya bergelut dibidang kedokteran dan akademisi. (Rul)

Pemkab Sleman Fokuskan Perhatian ke Kali Opak postheadericon

Ancaman banjir lahar dingin Kali Opak masih mengancam. (Foto : Ardhi Wahdan)
SLEMAN (KRjogja.com) - Ancaman sekunder Gunung Merapi berupa banjir lahar dingin kini terus mengintai warga Sleman. Pemkab Sleman pun memfokuskan perhatian di aliran Sungai Opak yang beberapa kali ini dilalui banjir lahar dingin.
Kepala Dinas Kesbanglinmas dan Penanggulangan Bencana Sleman, Urip Bahagia menjelaskan, aliran sungai yang berhulu ke Merapi dan dinilai paling berbahaya ialah Kali Opak. "Selain material yang menumpuk di hulu sungai sangat banyak, di Kali Opak juga tidak ada dam pengendali seperti yang ada di Kali Gendol," terangnya di Sleman, Selasa (4/1).
Oleh karena itu, pasca banjir lahar dingin hebat yang terjadi Senin (3/1) kemarin sore, pihaknya akan memasang lampu soklai di beberapa titik. Diantaranya di dekat Mapolsek Cangkringan, Dusun Geblok, Panggung, Bronggang, Kopeng dan dusun lain. "Hal ini untuk memantau kerawanan banjir lahar dingin. Jadi, di tempat tersebut akan ada orang yang memantau jika puncak Merapi turun hujan," imbuh Urip.
Saat disinggung mengenai alarm banjir lahar dingin atau Early Warning System (EWS) yang dipasang di beberapa titik, Urip menjelaskan, semua sudah tidak berfungsi alias rusak. "Mengapa kita pasang lampu soklai untuk memantau hujan, ya karena EWS sebagai peringatan jika terjadi hujan lebat sudah rusak semua," ungkapnya.
Disamping itu, pihaknya juga memperingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Khususnya bagi warga Dusun Salam, Wukrisari serta Dusun Krajan dan Teplok Argomulyo. Pasalnya, ketiga dusun tersebut berada di bantaran Kali Opak. (Dhi)

Fenomena Matahari Cincin Resahkan Warga postheadericon

Fenomena halo yang terlihat jelas di wilayah Cangkringan. (Foto : Ardhi Wahdan)
SLEMAN (KRjogja.com) - Fenomena matahari dikelilingi lingkaran cincin pelangi yang terlihat di langit DIY, Selasa (4/1) siang sekitar pukul 10.00 WIB tadi, mengundang tanya masyarakat. Tak jarang warga resah dan mengkaitkan peristiwa alam ini sebagai pertanda datangnya musibah.
Anto, salah seorang warga Jetis, Argomulyo, Cangkringan, Sleman menduga-duga, fenomena matahari cincin atau Halo ini ada kaitannya dengan bencana lahar dingin Gunung Merapi yang menerjang kawasan Cangkringan, Senin (3/1) kemarin. "Jangan-jangan ini pertanda akan terjadi bencana lagi. Mungkin banjir lahar dingin bisa lebih besar dari yang kemarin," kata Anto cemas.
Warga lain, Nugroho juga menyatakan hal yang sama. Kejadian alam yang baru pertama kali dialaminya ini juga menyisakan teka-teki baginya. “Ini pertanda sesudah atau sebelum bencananya ya? Semoga saja ini hanya kejadian alam biasa,” ujarnya.
Fenomena Halo juga terlihat jelas dari kawasan Bantul. Peristiwa matahari cincin ini mangingatkan Edi, warga Kasihan, Bantul akan fenomena awan cirus atau awan vertikal yang terlihat di langit Bantul beberapa hari sebelum gempa bumi di Bantul 27 Mei 2006 lalu.
“Pertanda ini seperti fenomena awan lurus sebelum gempa bantul terjadi. Namun semoga ini bukan pertanda apa-apa dari alam,” katanya.
Sementara itu, Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menjelaskan, matahari cincin tersebut terbentuk karena adanya awan stratus, yakni butiran-butiran air sisa hujan yang terbiaskan oleh sinar matahari, sehingga membentuk partikel seperti pelangi. Jangkauan fenomena Halo juga meluas, sehingga dapat secara jelas di wilayah DIY dan sekitarnya.
"Ini sama sekali tidak ada kaitan dengan kegempaan atau bencana lainnya. Biasanya setelah hujan yang disusul oleh panas sehingga butiran air di atas itu membias oleh sinar matahari," jelas Staf Data dan Informasi BMKG Yogyakarta, Bambang Subadio. (Dhi)

Lima Pendaki Gunung Tandikek di Ujung Maut postheadericon

VIVAnews - Pencarian lima pendaki yang terjebak di Gunung Tandikek, Sumatera Barat, dilanjutkan hari ini. Menurut informasi Sekretariat Bersama Pencinta Alam Sumbar, tim penyelamatan pertama sudah berada di puncak Gunung Singgalang dan mulai menyusuri jalur Gunung Tandikek.

"Hujan deras dan licinnya jalur pencarian membuat tim SAR pertama dari Sekber memilih camp dulu di Telaga Dewi (Gunung Singgalang)," ujar Kepala Sekber Pecinta Alam Sumbar Rico Adi Utama, Selasa, 4 Januari 2011.

Sejauh ini, 31 personel rescue dari pencinta alam dan Basarnas diterjunkan. Lima pendaki itu dikabarkan terjebak di jalur Gunung Tandikek usai merayakan malam pergantian tahun di puncak Gunung Singgalang. Tiga di antaranya bernama: Beni (19 tahun), siswa SMA Pembangunan; Osri Ssamson (27 tahun), dan Fuji, alumni SMA Pembangunan.

Sedangkan dua pendaki lainnya merupakan rekan dari Osri. Saat ini, kelima pendaki ini dikabarkan tengah kehabisan perbekalan dan mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh) akibat cuaca yang teramat dingin.

Kontak terkahir dengan lima pendaki menyebutkan bahwa mereka terjebak di jalur yang cukup terjal sehingga tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Tim rescue memprediksi mereka berada di koordinat survivor 4740 - 5430.

"Saat ini, Pemda Tanah Datar dan pencinta alam di Sumbar terus melakukan penguatan tim dan tindakan rescue yang efektif untuk penyelamatan," katanya. Diperkirakan, siang ini tim penyelamat gabungan akan mencapai posisi korban dan melakukan proses evakuasi.

Keluarga pendaki yang dinyatakan terjebak ini sempat mendatangi Sekber Pecinta Alam Sumbar, meminta agar tim segera mengevakuasi kelima pendaki. Pencarian pendaki ini dimulai dari dua titik: Gunung Tandikek dan Gunung Singgalang. (Laporan: Eri Naldi, Padang | kd)

• VIVAnews

Fenomena Halo Matahari Hebohkan Yogya postheadericon

 
Fenomena halo Matahari (Pembaca VIVAnews/ Jerry Oktavian)

VIVAnews - Fenomena menarik terjadi di langit Yogyakarta, Selasa siang sekitar pukul 11.15 Waktu Indonesia Barat.

Warga masyarakat ramai-ramai ke luar rumah, untuk melihat penampakan Matahari yang tak biasa. Sang surya yang bersinar terik seperti dikelilingi cincin pelangi. Fenomena itu dikenal dengan nama halo Matahari.

Jatmiko, warga Pathuk, Gunung Kidul, DIY mengaku melihat penampakan halo Matahari selama 15 menit.

"Saya heran dan takjub melihat fenomena itu. Tapi tak terlalu resah, karena tanda-tanda bencana bukan seperti itu," kata Jatmiko kepada VIVAnews, Selasa 4 Januari 2011.

Dijelaskan Jatmiko, yang ia tahu, saat terjadi gempa besar di Yogyakarta tahun 2006 lalu, petandanya bukan halo Matahari melainkan awan Cirrus -- awan yang berbentuk vertikal.

"Warga tak terlalu panik, justru berharap ini adalah petanda baik," tambah dia.

Dihubungi terpisah, staf observasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta, Heru Gunawan, menjelaskan fenomena halo Matahari terjadi karena pembiasan kristal es yang berada di sekitar Matahari yang membentuk semacam pelangi.

"Biasanya terjadi selama 30 menit, tergantung kecepatan angin. Ketika cepat, fenomena itu cepat selesai, kalau hembusan angin stabil dapat berlangsung lama," kata dia.

Tidak semua orang bisa melihat fenomena itu. Untuk hari ini, mungkin hanya masyarakat Yogya yang bisa menikmatinya.

Soal apakah halo Matahari bisa jadi petanda bencana, Heru menegaskan, tidak. "Halo Matahari fenomena alam biasa, tidak ada hubungannya dengan bencana alam, gempa misalnya. Demikian juga dengan awan cirrus, tak ada kaitannya," tambah dia.

Sebelumnya pada Kamis 21 Oktober 2010, terjadi fenomena halo matahari di atas Kota Padang, Sumatera Barat. Sebagian besar warga lalu mengaitkan fenomena ini dengan gempa besar. Sebagian warga cemas.

"Fenomena ini soalnya pernah terjadi sehari setelah gempa besar 30 September 2009," kata Sari, seorang warga Padang.

Laporan: Juna Sanbawa| DIY, umi

Banjir Lahar Lumpuhkan Jalur Yogya-Magelang postheadericon

VIVAnews - Luapan banjir lahar dingin Kali Putih yang berlangsung sejak kemarin malam hingga Selasa pagi ini, 4 Januari 2011, masih menyebabkan jalur Magelang-Yogyakarta terputus.
Berdasarkan pantauan VIVAnews, di jembatan Gempol, Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang, hamparan lahar menimbun rumah warga baik yang ada di utara maupun selatan Jalan Magelang-Yogyakarta di Km 23. Lahar juga menimbun pemakaman umum Giriloyo Gempol dan sejumlah kendaraan.

Fauzan, salah seorang petugas dari Komunikasi Peduli Aktivitas Merapi, mengatakan banjir lahar dingin itu sangatlah besar sampai-sampai aliran sungai sempat berpindah jalur melalui perkampungan Gempol. Luapan material banjir juga menyebabkan pendangkalan dasar sungai sekitar dua meter.
"Sekarang talud sungai saja sudah tidak terlihat dan rata dengan material. Ini merupakan banjir yang paling besar," ujar dia kepada VIVAnews.com.

Luapan banjir tersebut menyebabkan 160 warga Gempol yang terisolir dievakuasi ke posko pengungsian balai desa Jumoyo. "Warga Gempol sudah dievakuasii semua. Nanti warga Candi yang terletak di selatan Gempol juga akan dievakuasi karena terisolasi," dia menerangkan.

Banjir lahar dingin di Kali Putih menyebabkan aliran sungai berbelok dan pindah  ke arah Timur sekitar 200 meter dari aliran sungai yang lama. Bahkan, batu-batu dengan ukuran cukup  besar juga terlihat memenuhi  Dusun Gempol.

Mengenai jumlah rumah warga yang tertimbun material banjir lahar dingin, Fauzan mengatakan hingga saat ini belum dilakukan pendataan. "Kami belum tahu jumlahnya berapa yang rusak terkena banjir," katanya
Hingga saat ini arus lalu lintas kendaraan, baik dari Magelang menuju Yogyakarta, maupun sebaliknya, dialihkan melalui jalur Kalibawang melewati Dekso dan Godean. (Laporan: Fajar Sodiq, Magelang | kd)
• VIVAnews